logo

SELAMAT DATANG

Website ini merupakan situs resmi Pengadilan Tinggi Agama Pontianak Sebagai Wujud Keterbukaan Informasi di Pengadilan
SELAMAT DATANG

8 Nilai Utama Mahkamah Agung RI

Delapan Nilai Utama yang Harus di Internalisasi dan di Implementasikan Sehingga Menjadi Ruh Setiap Insan Peradilan
8 Nilai Utama Mahkamah Agung RI

ZONA INTEGRITAS

Pengadilan Tinggi Agama Pontianak konsisten membangun Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK), Wilayah Birokrasi Bersih & Melayani (WBBM)
ZONA INTEGRITAS

Aplikasi SIPP

Aplikasi Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP), merupakan aplikasi administrasi dan penyediaan informasi perkara baik untuk pihak internal pengadilan, maupun pihak eksternal pengadilan. Pengunjung dapat melakukan penelusuran data perkara (jadwal sidang sampai dengan putusan) melalui aplikasi ini.
Aplikasi SIPP

SIWAS

Aplikasi yang disediakan oleh Badan Pengawasan Mahkamah Agung RI, untuk melaporkan suatu perbuatan berindikasi pelanggaran yang terjadi di lingkungan Mahkamah Agung Republik Indonesia atau Peradilan dibawahnya.
SIWAS

e-Court Mahkamah Agung RI

e-Court Mahkamah Agung RI adalah layanan bagi Pengguna Terdaftar untuk Berpekara secara Elektronik yang dilakukan dengan saluran elektronik : e-Filling (Pendaftaran Perkara Online), e-Payment (Pembayaran Panjar Biaya Perkara Online), dan e-Summons (Pemanggilan Pihak secara Online)
e-Court Mahkamah Agung RI
Selamat datang di website resmi Pengadilan Tinggi Agama Pontianak || Mari berpartisipasi dalam e-survey PTA Pontianak, penilaian anda mejadi motivasi peningkatan kinerja kami

Written by Super User on . Hits: 169

Tambangan

   Oleh : Dr. H. Amam Fakhrur, S.H. M.H. 

Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah yang dialiri sungai, tentu tak asing dengan istilah Tambangan. Tambangan itu merujuk kepada penyeberangan dengan sarana perahu yang ditarik dengan tambang, dari sebuah daratan menuju daratan di seberangnya. Sepertinya di tempat lain,Tambangan populer disebut Penambangan. Entah sejak kapan Tambangan ini ada, konon Tambangan ada sejak jaman Mataram kuno atau sejak jaman Mojopahit.

Di kampung halaman saya, Laren-Lamongan, ada juga Tambangan yang melewati bengawan Solo, menghubungkan brang lor (seberang utara) menuju brang kidul (seberang selatan). Tambangan yang paling besar adalah Tambangan yang menghubungkan Desa Laren dengan Desa Pangkatrejo. Sampai akhir tahun 70 an, Tambangan itu ramai sekali, beroperasi siang malam. Dengan ongkos Rp.25,- warga telah dapat menggunangan jasa tambangan itu.Di sekitarnya ada beberapa Tambangan yang lebih kecil, beroperasi pagi sampai siang saja,seperti Tambangan Gisik dan Gendong.

Meski perahu tidak ditarik dengan tali ,tetapi penyeberangan sungai ini dinamai Tambangan. Di Tambangan yang menghubungkan Desa Laren dengan Desa Pangkatrejo, perahunya lumayan besar, dikendalikan oleh dua orang. Ketika perahu berjalan masih di tepi sungai, bagian depan bersarana watang (bambu panjang) yang oleh tukang perahu ditancapkan ke tanah bagian dasar air atau tepi daratan kemudian didorongnya, dan seorang di bagian belakang, memegang gol, untuk mengendalikan arah perahu. Bila perahu sudah meninggalkan pinggiran sungai, pengendali bagian dengan beralih memegang dayung sambil duduk untuk mendorong perahu agar bersauh lebih cepat dan agar tidak dengan mudah terbawa arus sungai.

Tambangan ternyata tidak hanya merujuk kepada penyeberangan, tetapi juga merujuk kepada pelabuhan tempat mangkalnya perahu, Di Tambangan Laren,terdapat pasar Nggobeh (disebut juga Pasar Pahing). Mulai hari legi (nama hari versi jawa), banyak perahu bersandar dengan menurunkan barang dagangan untuk digelar esoknya di hari Pahing. Tepat di samping Tambangan, ada Kantor Kecamatan, dan di sebelah utaranya terdapat rumah seorang ulama dan saudagar kaya raya, Kaji Ali Mahfudz.

Di tahun-tahun itu, masyarakat ramai nambang (menggunakan jasa penyeberangan) ,termasuk saya untuk bersekolah di SMP Muhammadyah 4 Pangkatrejo. Sebelum akhirnya Tambangan itu sudah tidak ramai digunakan, karena di akhir tahun 1980 an, dibangun jembatan yang lantai dasarnya berbahan kayu, kemudian di tahun 1990 an, dibangun jembatan yang lebih modern.

Meskipun Tambangan itu membelah bengawan Solo yang cukup lebar dan di musim tertentu berarus besar, selama Tambangan itu beroperasi, saya belum pernah mendengar sarana transportasi sungai Solo yang lebar itu terjadi kecelakaan dan membawa korban pengguna jasanya, mereka yang nambang dapat menyeberang dengan selamat. Itu tak hanya berlangsung puluhan tahun, mungkin ratusan tahun. Mengapa ?

Saya berasumsi, keselamatan dapat terjaga selain karea sarana perahu yang lumayan standart,skill pengemudi, juga faktor penumpang sebagai pengguna jasa. Tanpa dikomando,mereka yang nambang telah berdisiplin selama perjalanan, tanpa ada yang mengomando dengan kesadaran masing-masing mereka telah mengambil posisi yang tepat, membuat perahu dapat berlabuh secara seimbang, bersikap tenang, merekapun tidak gojekan, tidak sembrono sambil komat-kamit, nyebut gusti Allah, memohon keselamatan. Memang sulit dipercaya, medan yang tidak begitu mudah, berlangsung ratusan tahun, tetapi keselamatan menuju seberang dapat terjaga.

Dalam agama Islam ada pemahaman kepercayaan , bahwa di hari akhirat terdapat Tambangan (penyeberangan) dengan jembatan yang panjang   yang menghubungkan menuju pintu surga. Sebelum manusia dapat menuju pintu surga harus dapat melewati jembatan yang digambarkan sebagai jembatan yang lebih tipis dari sehelai rambut dan lebih tajam dari pedang. Yang akan menentukan manusia apakah dapat menyeberangi menuju pintu surga ataukah jatuh ke neraka adalah sejauhmana amal perbuatannya.

Agaknya narasi penyeberangan tersebut di atas, adalah sebagai simbol adanya pilihan jalan menuju kebahagiaan atau kesengsaraan yang kekal abadi (khalid abada) dan untuk menuju kebahagiaan abadi itu terdapat bisikan pengaruh yang membuat manusia tergelincir pada kesenangan dan menggelincirkannya kepada kesengsaraan.

Sebenarnya jalan menuju pintu surga adalah sangat lebar,tidak sempit dan terbuka lebar bagi siapa saja manusia saat hidup di dunia ini. Tidak hanya untuk mereka manusia yang berlatar belakang etnis,sosial dan biologis tertentu. Banyak sekali media dunia ini untuk ditapaki dengan tidak bertindak ceroboh,dengan keasadaran mengambil posisi yang benar,tidak ugal-ugalan dan nekat melanggar tuntunan Tuhan. Jalan itu adalah jalan yang lurus (shirath al-mustaqiem). yang membentuk manusia menjadi makhluk berspiritual,bermoral dan bersosial tinggi.

Mereka yang nambang, dengan kesadaran tanpa dikomando telah memilih untuk bertindak disiplin, mengambil posisi benar di atas perahu , tidak sembrono, sehingga berpengaruh kepada keselamatan mereka selama penyeberangan.

Demikian pula untuk meraih kualitas manusia berspiritual,bermoral dan bersosial tinggi yang akan menjadi penentu keberhasilan manusia menyeberang jembatan menuju pintu surga, juga sangat tergantung kepada pilihannya manusia itu sendiri, apakah akan menjadikan sebagai pilihannya atau tidak. Wallahu a’lam.

© 2019 Pengadilan Tinggi Agama Pontianak

  w3c html 5 iconfinder 2018 social media popular app logo facebook 3225194  iconfinder 2018 social media popular app logo twitter 3225183  iconfinder 2018 social media popular app logo instagram 32251911  iconfinder 2018 social media popular app logo youtube 32251802